OJK Mendorong Penguatan GRC Berintegritas dan Berkelanjutan di Sektor Jasa Keuangan

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) senantiasa berupaya untuk memperkuat penerapan fungsi Governance, Risk, and Compliance (GRC) yang berintegritas, serta berkelanjutan di sektor jasa keuangan. Hal ini merupakan langkah strategis dalam menjaga stabilitas sistem keuangan, terutama di tengah tantangan global yang kian kompleks.
Pentingnya GRC dalam Sektor Jasa Keuangan
Ketua Dewan Audit OJK, Sophia Wattimena, mengungkapkan hal tersebut dalam Forum Governance, Risk, and Compliance (GRC) yang berlangsung dalam rangka Pra-Risk and Governance Summit (RGS) 2026. Acara ini diadakan di Gedung A.A. Maramis, Jakarta, pada Selasa, 7 April 2026. Forum tersebut menjadi platform penting untuk memperkuat kerjasama antara regulator, asosiasi profesi, dan para pelaku industri di sektor jasa keuangan.
Membangun Kolaborasi yang Kuat
Dengan tema “Rajut Silaturahmi dalam Mendorong Penerapan Fungsi GRC yang Berintegritas dan Berkelanjutan di Sektor Jasa Keuangan”, forum ini menghadirkan Deputi Bidang Pelaporan dan Pengawasan Kepatuhan PPATK, Fithriadi Muslim, sebagai pembicara kunci. Moderasi acara dilakukan oleh Fransiska Oei, Direktur Kepatuhan, Corporate Affairs, dan Legal di PT Bank CIMB Niaga Tbk. Forum ini juga dihadiri oleh pemimpin asosiasi profesi dalam bidang GRC.
Peran Kritis GRC di Masa Depan
Sophia menekankan bahwa forum ini tidak hanya sebagai ajang diskusi yang konstruktif tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat kolaborasi di antara semua pemangku kepentingan. Ini merupakan langkah penting untuk mendukung penguatan fungsi GRC menjelang pelaksanaan Risk and Governance Summit (RGS) 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 14 Juli 2026.
Tantangan yang Dihadapi Sektor Jasa Keuangan
Di masa mendatang, sektor jasa keuangan akan dihadapkan pada beragam tantangan yang kompleks, baik dari sisi global maupun domestik. Berdasarkan publikasi dari The Institute of Internal Auditors (IIA), beberapa risiko utama yang perlu diperhatikan meliputi:
- Keamanan siber
- Disrupsi digital, termasuk kecerdasan buatan (AI)
- Ketahanan bisnis
- Sumber daya manusia
- Perubahan iklim dan regulasi
Sophia menegaskan bahwa situasi ini menunjukkan meningkatnya tingkat ketidakpastian. Oleh karena itu, peran GRC menjadi sangat penting untuk memastikan kepatuhan, memperkuat tata kelola, serta meningkatkan ketahanan industri.
Transparansi dalam Kepemilikan Manfaat
Dalam sesi diskusi panel, forum juga membahas topik transparansi dalam kepemilikan manfaat (Beneficial Ownership/UBO) dan dampaknya terhadap penguatan GRC di sektor jasa keuangan. Diskusi ini mencakup arah kebijakan, pemanfaatan data UBO dalam pengawasan berbasis risiko, serta peran intelijen keuangan dalam mendorong transparansi dan kolaborasi lintas sektor.
Inisiatif Edukasi dan Partisipasi Asosiasi
Di samping itu, forum ini membahas berbagai persiapan untuk rangkaian kegiatan Road to RGS 2026. Ini termasuk partisipasi asosiasi dalam program edukasi seperti Spark Class, pengakuan untuk Continuing Professional Education (CPE), penyediaan booth asosiasi, serta pengembangan konten edukasi melalui berbagai media komunikasi.
Penandatanganan Komitmen Kolaborasi
Acara tersebut ditutup dengan penandatanganan komitmen kolaborasi antara OJK dan asosiasi profesi. Tujuan dari kerjasama ini adalah untuk mendukung penyelenggaraan RGS 2026 dan memperkuat ekosistem GRC yang solid.
Mendorong Praktik Tata Kelola yang Baik
Melalui forum ini, OJK berharap dapat memperkuat kerjasama antara regulator, asosiasi, dan pelaku industri untuk mendorong praktik tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan yang lebih efektif, transparan, dan berintegritas. Hal ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi sektor jasa keuangan di Indonesia, serta meningkatkan daya saing di kancah internasional.
Dengan upaya ini, OJK dan pemangku kepentingan lainnya berkomitmen untuk membangun sistem keuangan yang lebih kuat dan berintegritas, sehingga mampu menghadapi tantangan yang ada dan beradaptasi dengan perubahan zaman yang cepat. GRC berintegritas bukan hanya menjadi jargon, tetapi merupakan suatu keharusan bagi keberlangsungan sektor jasa keuangan dalam menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.






